Tradisi Memandikan Keris

CLICKBORNEO.COM – Tradisi memelihara keris dapat dijumpai di beberapa daerah Nusantara, termasuk Kalsel. Namun yang paling dominan ialah di kepulauan Jawa, terutama wilayah-wilayah yang pernah berada di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit.

Memandikan keris

Sebenarnya keris dibuat bukan untuk membunuh, melainkan lebih bersifat sebagai senjata dalam pengertian simbolik dan spritual. Oleh karena itu oleh sebagian orang keris dianggap memiliki kekuatan gaib.

Karena itu, tak usah heran kalau sampai sekarang masih banyak yang memperlakukan istemewa terhadap keris. Bahkan dalam masyarakat Jawa kalau pengantin pria berhalangan hadir pada upacara pernikahan, boleh mewakilkan dirinya dengan sebilah keris miliknya. Jadi, keris itulah yang akan dipersandingkan dengan pengantin putri di pelaminan.

Setahun sekali, tepatnya bulan Suro menurut kalender Jawa, keris-keris itu dimandikan atau dicuci. Di Keraton Surakarta, seperti Keraton Kasunanan dan Mangkunegaran tradisi mencuci keris itu dikenal dengan sebutan siraman pusaka. Demikian pula di keraton Kasultanan dan Pakualaman (Yogyakarta) tradisi memandikan keris tetap berkembang hingga kini.

Soal bagaimana cara memandikan dan memberi wangi‑wangian pada keris, banyak macamnya. Tempo dulu sering mengunakan jerus nipis, pace, nenas, kelapa, cendana maupun bebungaan seperti mawar, melati, dan kenanga.

Dalam perkembangan berikut, tradisi memandikan keris tersebut akhirnya diikuti pula oleh orang-orang yang berada di luar lingkungan keraton. Hal ini erat kaitannya dengan kepercayaan masyarakat bahwa tiap-tiap keris itu mengandung tuah tertentu.

“Sebagian keris memang memiliki tuah, yakni semacam manfaat gaib yang tidak terlihat tetapi dapat dirasakan, yang berasal dari berkah Tuhan YME,” jelas Warsito, seorang ahli keris.

Selain itu, tambahnya, ada pula jenis keris yang berisi makhluk halus sebangsa jin atau khadam.

“Jin atau makhluk halus lainnya dapat menempati atau menjadi penunggu keris, bilamana ia diundang. Bisa pula datang sendiri jika pemilik keris itu memberikan perlakuan yang menyenangkan baginya, misalnya dengan selalu memberikan sesaji pada kerisnya,” imbuh Warsito.

Tabib Nurdian, seorang warga Darmawangsa, Beruntung Jaya, Banjarmasin, juga sependapat bahwa dalam keris pusaka bisa dihuni oleh khadam.

“Karena itulah supaya si khadam senang, keris perlu dimandikan. Jangan sampai berkarat. Memandikan keris itu menurut masyarakat Banjar dikenal dengan istilah malulucuk,” jelas Nurdian.

Lazimnya keris tersebut direndam di dalam air nenas, air kelapa maupun larutan jeruk nipis.

“Terakhir saya belajar memandikan keris dengan guru H. Nafiah (alm) di Handil Manarap. Dia bukan saja pandai memandikan keris tapi juga bisa memberi makan besi. Prosesnya keris direndam di dalam bumbung bambu atau galon yang berisi cairan santan, gula merah, labu, dan nasi dingin. Ini makanan zahirnya. Sedangkan untuk batinnya dibacakan Fatihah empat,” paparnya.

Setelah dimandikan, keris dibersihkan sekian hari, sehingga pamornya semakin bagus. (ali)

Tradisi Memandikan Keris 5.00/5 (100.00%) 1 vote

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


5 − 2 =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>