Terus Lestarikan Tradisi Janur Kuning

CLICKBORNEO.COM -  Sampai sekarang tradisi menghias janur kuning di depan rumah sang pengantin tetap berkembang, walaupun sebagian sudah ada yang meninggalkan. Janur kuning tersebut, ujar Kawang Yudha, dimaksudkan sebagai petunjuk bahwa di gedung atau rumah itu sedang berlangsung suatu acara perhelatan.

janur_kuning

“Kalau melihat ada janur kuning di pasang dengan sendirinya orang jadi tahu bahwa di tempat itu sedang ada acara. Tradisi ini bukan hanya terdapat dalam masyarakat Banjar, Jawa, Betawi, dan Bali juga menggunakan.  Orang Banjar sering menyebutnya panjur,” jelas Kawang Yudha.

Sedangkan motif janur kuning, bagi masyarakat Banjar agak spesifik, beda dengan di Bali. Namun, tambahnya, tidak ada ketentuan yang bersifat baku.

“Di daerah Martapura seperti Astambul dan Danau Salak masih sering kita lihat dekorasi dengan menggunakan janur kuning. Biasanya cuma untuk di luar gedung atau rumah, tepatnya  dipasang di depan pintu gerbang. Jarang yang diletakkan di samping pelaminan. Karena menurut adat penganten Banjar yang sering ditaruh di samping pelaminan adalah kembang sarai atau ornamen sepasang ular lidi,” tegas Kawang Yudha.

Janur kuning duduk, yang ditengah-tengahnya dipasak gadang pisang kemudian di sekelilingnya dihiasi janur kuning sedemikian rupa, kadang juga ditambah aneka buah-buahan, menurut mantan Nanang Banjar (1983) ini lebih kepada penganten adat Jawa dan Bali.

“Di masyarakat kita lazimnya janur kuning itu cuma di luar rumah. Bambu dilengkungkan di depan pintu masuk, lalu diberi rumbai-rumbai janur kuning. Ada yang berbentuk kipas, lampu, atau tali-temali yang terjurai,” ungkapnya.

Menurut Kawang Yudha, sejak awal ia mengeluti profesi sebagai penghias pengantin, hampir tak pernah ketinggalan untuk mendekorasi kediaman sang mempelai dengan janur kuning. Sebab, kalau terlalu banyak bunga-bungaan akan terkesan sekali kebarat-baratan.

“Umumnya biaya untuk itu terhitung sudah satu paket. Tapi bisa juga, atas permintaan tuan rumah mereka sendiri yang membuat hiasan janur kuning,” ujar Kawang.

Tradisi hiasan janur kuning ini bukan cuma digunakan pada saat perhelatan pengantin, tapi bisa pula untuk acara-acara lainnya. Bahkan di Jawa dalam sunatan yang mengundang banyak orang, rumah dihiasi dengan janur kuning.

 “Bagaimana pun tradisi janur kuning harus dilestarikan hingga generasi berikut. Kendati saya pribadi dihinggapi sedikit rasa pesimis dan khawatir tradisi akan memudar. Meskipun kita mengalami perubahan jangan sampai tercabut dari akar budaya,” imbuhnya.

Apalagi, tambah Kawang, pembuatan hiasan janur kuning itu tidak terlalu rumet. Kalau memesan, harganya pun relatif murah. Kayaknya hampir di setiap kampung, terutama di daerah-daerah Hulu Sungai, ada orang yang pintar membuat hiasan yang terbuat dari janur kuning.

“Apalagi sekarang ada buku tentang cara merangkai janur kuning yang bisa didapatkan dengan mudah di pasaran. Sedangkan orang-orang dulu, kepandaian itu diperoleh secara tradisional, belajar dengan cara membikin bersama-sama,” ungkapnya. (ali)

BERI NILAI ARTIKEL DI ATAS

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


− 4 = 1

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>