Tantangan Lagu-lagu Daerah Banjar

Oleh: Ahmad Barjie B

CLICKBORNEO.COM - Umpat badundang pang, Ayuha. Acara yang dipandu oleh Peter Lantu dan Farida Rahmawati (sebelumnya Amoy), termasuk salah satu acara favorit TVRI Banjarmasin (saat itu), di samping habar banua, fokus Islami, batatawaan, baturai pantun asuhan Jhon Tralala cs dll.

Lagu1

Sejak acara it ditayangkan dua kali seminggu, kelihatannya perhatian pemirsa lebih meningkat daripada sebelumnya, baik sekadar menyaksikan, bahkan banyak yang ikut menyanyi melalui telepon.

Lagu-lagu yang ditawarkan untuk pemirsa cukup baik,  walaupun kurang variatif karena terlalu lama baru dirubah.  Wajar jika ada pemirsa agak jenuh dan malah mengusulkan agar disertakan lagu-lagu berirama padang pasir (qasidah) sebagai selingan.  Hal ini karena urang Banjar yang mayoritas muslim juga menyenangi lagu-lagu demikian, seperti dinyanyikan grup Nasyida Ria, Haddad Alwi dan Sulis, dll.

Masalah yang sangat terasa dalam acara tersebut adalah minimnya peminat lagu-lagu daerah Banjar.  Dalam beberapa kali tayangan, pemirsa yang memilih lagu daerah Banjar sangat sedikit bahkan nyaris tidak ada. Akibatnya ada edisi siaran yang tidak lagi menyertakan lagu daerah Banjar karena sepi peminat.

Pertanyaannya, mengapa hanya lagu-lagu dangdur dan pop saja yang digemari masyarakat. Mengapa lagu-lagu daerah banjar tidak laku di kampung halamannya sendiri, dan seolah kehilangan habitatnya. Kalau orang-orang Banjar tidak menghargai lagu-lagu daerahnya, lantas siapa yang kita harapkan.

Krisis Kedaerahan

Minimnya perhatian masyarakat Banjar terhadap lagu-lagu daerah diduga disebabkan mereka sudah merasa asing dengan budaya daerahnya. Lihat saja, khususnya muda-mudi, selain kurang mengetahui sejarah Banjar, juga kurang mengetahui khazanah budaya daerah, baik berupa ungkapan-ungkapan tradisional, cerita-cerita rakyat maupun kesenian rakyat. Seolah terjadi kesenjangan antara budaya daerah dengan warganya. Budaya daerah seperti hanya miliknya orang-orang tua saja.

Ini berbeda jika kita bandingkan dengan masyarakat Ambon, Batak, Minang, Minahasa, Sunda dll, mereka begitu fanatik dengan kesenian daerahnya. Lihat saja kalau ada paguyubahn warga luar mengadakan acara di Banjar, pasti lagu-lagu daerahnya sangat dominan dan rata-rata mereka pandai menyanyikannya. Di mana saja mereka berada, di daerah sendiri atau di rantau orang, budaya daerah tetap di dianut dan lagu-lagunya dikuasai dengan baik, tidak luntur oleh arus zaman.

Dalam hal berkesenian, khususnya kesenian musik, warga Banjar kelihatannya lebih suka mengadopsi lagu-lagu dari luar, baik dangdut, pop, rock, dll. Ini tampak dari grup-grup musik yang ada di daerah, apalagi grup-grup karaoke yang menjamur, hampir tidak ada yang menekuni musik-musik daerah. Mereka lebih senang dan bangga menyanyikan lagu-lagu orang daripada lagu-lagu awak.

Tidak hanya sampai di situ, tak sedikit pula urang Banjar yang suka menyanyikan lagu-lagu barat, terlepas apakah mereka memahami artinya atau tidak, bisa berbahasa Inggris atau tidak.  Sebenarnya tukar menukar budaya dan kesenian boleh saja terjadi. Tetapi sebaiknya hal itu dilakukan seimbang. Bila ada masyarakat barat yang suka menyanyikan lagu-lagu kita, maka kita pun boleh mendendangkan lagu-lagu mereka. Kalau kitanya saja yang suka menyanyikan lagu-lagu mereka, sementara mereka sama sekali buta dan tidak tertarik dengan lagu-lagu kita, itu namanya tidak seimbang. Kita kalah dalam percaturan dan kompetisi budaya. Kita hanya pandai membeli, namun tidak mampu menjual apa yang kita miliki. []

BERI NILAI ARTIKEL DI ATAS
[touchcarousel id='6']

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


8 + = 11

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>