Tantangan Berat Berdakwah di Pedalaman

CLICKBORNEO.COMTantangan dan medan dakwah di pedalaman cukup berat. Bukan saja faktor alamnya yang terpencil, tapi tanggapan penduduknya yang berbeda keyakinan, kadang diwarnai prasangka buruk. Bahkan tak jarang tenaga PAH yang ditugaskan di pedalaman mendapat perlakuan kasar.  

dakwah di pedalaman

Di Loksado misalnya, ada seorang petugas PAH yang sengaja dikucilkan, bahkan ketika dia berjualan kue diwanti-wanti supaya warga tidak membeli barang dagangannya. Maksudnya, tiada lain, agar dia menghentikan aktivitas dakwahnya. Ini cuma segelintir kisah pahit, bagaimana sulitnya berdakwah di daerah-daerah pedalaman.

Sementara, honor yang diberikan Kemenag kepada mereka sangat tidak memadai. Itupun diambil sekali dalam enam bulan. Dan, ketika mengambil masih ada lagi pemotongan PPH dan PPN.

“Setelah dipotong, honor selama enam bulan itu untuk keperluan hidup satu bulan pun tidak cukup,” jelas Rusmadi yang berdakwah di pedalaman Loksado, Hulu Sungai Selatan.

Padahal selama menjadi tenaga PAH di Loksado, dari menjadi muazin, imam, khatib, guru ngaji di TPA Darussholihin, dia sendiri yang turun tangan. Dan itu tidak ada yang menggaji. Sehingga mau tak mau ia harus mencari kerja sampingan, berkebun dan menjual hasil sayur-mayur dua kali sepekan.

“Kadang untuk memancing anak-anak supaya rajin mengaji, kita berikan buku gratis atau dengan mengiming-imingi kembang gula,” papar Barniah, petugas PAH lain.

Belum lagi kalau masuk ke daerah-daerah terpencil sekian kilometer, kalau naik ojek mungkin honor PAH sudah habis untuk menutupi semua itu.

Problem Klasik

Menurut Ketua LPKDP, Ilham Masykuri Hamdie, hal itu tidak hanya  dialami Rusmadi, semua dai-dai yang berdakwah di lereng-lereng Maratus menghadapi tantangan berat dari segi geografis. Logistik/prasarana kurang memadai, termasuk pula perhatian dari pihak-pihak yang terkait.

Tantangan petugas PAH di pedalaman jauh lebih berat daripada yang berdakwah di perkotaan. Bukan cuma tingkat pemahaman keagamaan, kondisi masyarakat yang serba kekurangan di bidang pendidikan dan ekonomi, tentu tuntutan masyarakat kepada para dai di sana lebih besar, untuk memecahkan persoalan mereka.

“Kemenag sudah berusaha meningkatkan jumlah honor mereka, tapi dana mereka sendiri juga terbatas. Sebenarnya ini isu klasik, namun tak kunjung terselesaikan selama paradigma berpikir kita tidak diubah,” ujar Ilham Masykuri.

Maksudnya, untuk daerah pedalaman model dakwah konvensional — yaitu datang mengajari mengaji lalu pergi — sudah tidak laku lagi. Kita harus mengubah strategi, dengan cara mengirim anak-anak mereka ke sekolah atau pesantren. Dari situlah akan tumbuh cikal bakal dai di kalangan mereka sendiri untuk melanjutkan tugas dakwah. Bukan terus menerus mengirimkan dai-dai.

Ia mengusulkan supaya dibentuk yayasan atau lembaga pemerhati dakwah. Tokoh-tokoh yang ada di Banjarmasin mensupport dana, sedangkan mereka yang di daerah bergerak. Karena di tiap kabupaten itu punya daerah pedalaman yang yang patut dijadikan objek dakwah. Seperti: Kahilaan dan Peramasan (kabupaten Banjar), Hantakan (HST), Awayan dan Juai (Balangan), Jaro dan Upau (tabalong). Di daerah-daerah itu perlu ditingtkatkan dakwah.

“Sayangnya gerakan-gerakan dakwah kita masih bersifat sporadis dan parsial, tidak terorganisir dengan baik. Mengislamkan orang itu mudah, tapi berapa banyak yang tidak terbina?” gugat Ilham. (ali)

BERI NILAI ARTIKEL DI ATAS
[touchcarousel id='6']

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


6 − 1 =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>